GORUT, Matagorontalo.com – Di balik ramainya antrean Poli Mata RSUD dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS) Gorontalo Utara setiap hari, ada satu nama yang menjadi alasan utama pasien betah dan kembali datang yakni dr. Samuel B Emor SpM.
Dokter yang menangani Poli Mata tersebut kini menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Bukan hanya karena keahliannya dalam menangani berbagai keluhan mata, mulai dari katarak, glaukoma, hingga gangguan refraksi, tetapi karena sentuhan humanis yang ia berikan di setiap pelayanan.
Pantauan Matagorontalo.com, meski jadwal Poli Mata padat dari pagi pukul 08.00 WITA hingga sore, ia tetap memberikan pelayanan maksimal kepada setiap pasien.
“Setiap pasien diperiksa secara detail, tidak asal cepat, karena dalam tindakan maupun memeriksa mata itu tidak bisa dilakukan terburu – buru,” ungkap dr. Samuel B Emor SpM, Senin (19/10/2026).
Menurut dr. Samuel kunci utama dalam pelayanan mata adalah kesabaran dan ketelitian. Ia mengaku tidak ingin pasien pulang dengan rasa bingung atau cemas.
“Saya selalu berusaha ramah dan sopan. Pasien itu sudah datang dengan rasa sakit dan cemas, jangan lagi kita tambah dengan sikap yang tidak baik. Kita harus sambut dengan senyum, sapa dengan baik, itu yang membuat pasien nyaman,” ujarnya.
Iapun memastikan alat berfungsi optimal, diagnosa tepat, dan pasien benar – benar paham akan kondisinya sebelum meninggalkan ruangan. Prinsip pelayanan maksimal inilah yang membuat Poli Mata kini menjadi poli dengan kunjungan paling dominan di RS ZUS.
“Kalau kita buru – buru pasien tidak paham. Padahal mata ini organ yang sangat sensitif. Jadi saya harus pastikan pasien paham apa sakitnya, apa yang harus dihindari, dan bagaimana perawatannya di rumah,” jelasnya.
Soal tata krama dirinya menwgaskan bahwa sopan santun kepada pasien adalah bagian dari pengobatan itu sendiri. Olehnya dengan membludaknya pasien di Poli Mata adalah sebuah kepercayaan besar yang harus dijaga.
“Alhamdulillah pasien mata di sini dominan, itu artinya kepercayaan ini yang harus kita jaga dengan pelayanan yang maksimal dan tetap menjaga tata krama kepada setiap pasien,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya cara penyampaian diagnosis. Baginya, menjelaskan penyakit harus dengan bahasa yang sederhana dan menenangkan, bukan dengan istilah medis yang menakutkan.
“Saya tidak mau pasien pulang dengan ketakutan. Jadi saya jelaskan pelan – pelan, pakai bahasa yang mudah dimengerti. Saya bilang apa penyebabnya, obatnya bagaimana, pantangannya apa. Kalau pasien paham, dia akan lebih patuh berobat dan lebih cepat sembuhnya,” tandasnya.(MG-01)












